Kehadiran Rachmat Irianto Mengubah Warkop KHoi Jadi Panggung Kehangatan Tak Terlupakan

Oleh admin 04 Jun 2026, 16:41 WIB 15 Views

informasiphatas.id || SURABAYA – Tidak ada panggung megah, tidak ada sorak-sorai tribun stadion. Hanya secangkir kopi, obrolan sederhana, dan senyum hangat warga yang menyambut kedatangan Rachmat Irianto di Warkop KHoi, kawasan Simo Mulyo, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, Kamis (4/6/2026).

Sore itu, Rachmat Irianto seolah kembali menjadi anak kampung yang tumbuh di lingkungan Simorejo. Duduk santai bersama Wenda Pramono, pemilik Warkop KHoi, serta ditemani kedua anaknya, pemain kebanggaan Surabaya itu menikmati waktu yang sederhana namun penuh makna.

Kehadirannya sontak menarik perhatian warga sekitar. Namun bukan sekadar karena statusnya sebagai pemain profesional, melainkan karena sosoknya yang tetap membumi di tengah kesibukan dan gemerlap dunia sepak bola.

Satu per satu warga datang menyapa. Ada yang meminta foto bersama, ada yang sekadar berjabat tangan dan berbincang ringan. Di antara aroma kopi yang mengepul dan suara canda yang mengalun, tercipta suasana hangat yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bagi sebagian warga, momen itu bukan hanya pertemuan dengan seorang atlet terkenal. Lebih dari itu, mereka melihat seorang putra daerah yang tidak melupakan akar dan lingkungan yang telah membesarkannya.

“Kegiatan ngopi santai ini sebagai ajang silaturahmi dan menunjukkan kedekatan saya dengan pemilik usaha Warkop KHoi serta masyarakat Surabaya,” ujar Rachmat dengan senyum hangat.

Kalimat sederhana itu terasa mewakili perasaannya. Di tengah perjalanan karier yang terus berkembang, Surabaya tetap menjadi rumah yang selalu menghadirkan cerita dan kenangan.

Ditemani kedua buah hatinya, Rachmat tampak menikmati setiap detik kebersamaan tersebut. Seolah ingin memperkenalkan kepada anak-anaknya tentang tempat, suasana, dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Warkop KHoi sore itu bukan sekadar tempat menikmati kopi. Ia menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara seorang pesepak bola profesional dengan warga yang sejak dulu mengenalnya.

Ketika matahari mulai meredup dan obrolan perlahan berakhir, tersisa kesan hangat di hati warga yang hadir. Mereka pulang membawa cerita sederhana, bahwa setinggi apa pun seseorang melangkah, selalu ada tempat untuk kembali, menyapa, dan mengenang.

Editor: Red

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.
/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */